Secarik Foto Kusam

0
601

1 Januari 2060

Seorang laki-laki jangkung dengan rentang usia tiga puluh sampai empat puluh tahun terlihat kuyu menyayatkan belati tajamnya membuat goresan tipis di atas permukaan papan kayu berwarna cokelat kusam, guna menandakan tanggal berapa ia hidup sekarang.

Kesiur angin berembus pelan memainkan anak rambut laki-laki jangkung bernama Juang itu, garis wajah tegasnya tersiram hangat mentari pagi yang merangkak tegar beranjak menuju puncak. Ia meregangkan bada beranjak pergi mencari beberapa makanan yang mungkin dapat ia santap untuk mengganjal perut manjanya.

Sial, nampaknya aku harus pergi keluar berburu beberapa rusa untuk sarapan pagi ini’ Gumam Juang resah mendapati kulkas tuanya tak lagi menampung asupan yang ia butuhkan. Ia segera mengemas peralatan berburunya lantas mengambil langkah beranjak keluar membuka pintu jeruji besi, derit nyaringnya membuat Juang mengernyitkan dahi merasa ngilu. Begitu pintu jeruji sempurna terbuka, hamparan gedung-gedung tinggi yang mulai dijalari tumbuhan liar tampak bisu menganga tak berpenghuni, retakan serta bongkahan beton-beton keras memadati jalan kota menutup akses jalan yang bebas leluasa, hewan-hewan liar berebut buas mengencingi garis teritoral mereka.

Juang mengambil langkah menyusuri setiap sudut kota mati yang ia tinggali itu sembari sesekali membidik hewan buruan yang ia temui sepanjang jalan. Tanpa terasa, siang hari mulai beranjak matang, Juang melangkah letih sembari membopong hasil buruannya kembali ke bangunan yang dulunya tempat itu merupakan kampus terbaik pada zamannya.

Begitu sampai, Juang segera menyiapkan api unggun kecil diikuti dengan alat bakar lainnya lantas ia mulai membakar potongan-potongan daging hewan buruan yang sudah ia cincang. Gemeletuk api unggun terdengar hangat membuat Juang yang sedari tadi sibuk mengutak-atik radio lama tertegun sejenak menikmati lantunan gemeletuk yang api unggun itu percikkan.

Namun, disaat ia mulai tenggelam sibuk dalam kehangatan, terdengar walau samar radio lama itu mulai mendapatkan sinyal. Sontak Juang segera meraih radio lama itu membenarkan posisi antenanya sembari meletakkannya di tempat tinggi.

“Halo? Halo? Ada orang di sebrang sana? Siapapun tolong jawab aku!” Tukas Juang tenggelam dalam rasa penuh harap, satu menit, dua menit, nihil tak ada jawaban. Ia menghela nafas kecewa meletakkan kembali radio lamanya.

Kesunyian ini…

Entahlah, ia tak tahu apa yang harus ia perbuat. Wajahnya terdongak lemas menatap hampa ruang kelas yang dulunya ramai akan canda tawa.

Juang mengeraskan rahangnya geram, tangannya terkepal meluncurkan bogem mentah ke arah lantai melampiaskan amarah. Ia mengembuskan nafas panjang berusaha menenangkan diri sembari meraih tas kecil berwarna hitam kusam yang tak jauh dari tempatnya termenung merogohnya berusaha mencari sesuatu. Tanpa sengaja, disaat ia sibuk mengais tas kusamnya, secarik foto kusam terjatuh lambai tak sengaja ikut tertarik tepat di hadapan Juang. Ingatan-ingatan lamanya yang sudah terkubur kembali tumbuh subur begitu ia mencerna lamat foto kusam di hadapannya.

Juang menelan ludah menatap foto itu ngeri sekaligus pedih. Foto itu, alasan kenapa ini semua dapat terjadi, alasan kenapa kesunyian ini dapat menjadi-jadi. Juang mendongak kembali mengingat kejadian itu.

Tiga puluh tahun lalu, atau tepatnya tahun 2030, tahun yang takkan pernah Juang lupakan seumur hidupnya. Kala itu umurnya masih berkisar belasan tahun, suhu bumi telah sampai pada angka yang selama ini manusia takuti, hal ini membuat air laut naik menenggelamkan setengah peradaban, kekeringan terjadi tanpa jeda di tiap harinya, hampir setengah populasi manusia terkikis habis tak mampu berjuang serta bertahan menghadapi maha bencana yang marak menghabisi mereka semua.

sepuluh tahun kembali berlalu, tepat pada tahun 2040, disaat peradaban manusia sudah di ujung tanduk, iklim bumi banting stir yang tadinya panas luar biasa berubah drastis seratus delapan puluh derajat menjadi dingin ekstrim menusuk tulang, populasi manusia kembali terkikis bahkan nyaris menyentuh angka ribuan. Permukaan bumi yang tadinya diselimuti lautan lepas seketika mengeras beku tak kuasa menahan hawa dingin.

Sampai akhirnya, sepuluh tahun kembali terlewati lagi, bumi mulai kembali bernafas lega akan kepergian parasit-parasit yang mendiaminya, es-es mencair menghijaukan tanah-tanah kosong, lahan-lahan kembali terbuka, kota-kota menjadi mati tak berpenghuni dijalari semak belukar dan tanaman liar menjalar.

Tapi, berbeda dengan Juang, disaat umat manusia lainnya pasrah menerima akhir, Juang yang kala itu sedang banting tulang berusaha menghadapi panas dengan suhu ekstrem mendapati beberapa temannya di pemerintahan datang membawa segudang berkas mengenai ‘Bunker Anti Kiamat‘. Letaknya yang tak tercatat di dalam peta membuat Juang dan teman-temannya yakin akan keberadaan bunker ini.

Tak banyak basa-basi, ia dan seluruh teman-temannya memulai ekspedisi mengikuti koordinat yang sudah ditentukan sampai akhirnya, ekspetasinya yang terkadang hanya angan sepanjang perjalanan terwujud menjadi kenyataan. Ia menemukannya, sebuah kota mati yang masih terlihat asri walau luluh lantak di setiap sudutnya. Bunker itu sendiri terletak tepat di bawah kampus yang Juang kini tinggali. Ia dan seluruh temannya bahu membahu bertahan hidup dengan logistik yang tersedia di dalam bunker itu sampai akhirnya, setelah melewati berbagai tahun yang sulit bersama, satu persatu teman Juang menerka-nerka penasaran dengan keadaan di luar, mereka pamit mengemas barangnya angkat kaki ingin melihat dunia luar meninggalkan Juang sendiri yang kini tinggal dengan sepi.

Bencana itu…

Entahlah, apa dengan menemukan bunker ini sembari menghindari maha bencana di luaran sana adalah solusi terbaiknya? Sedang ia kini sendiri sepi disiksa oleh sunyi. Juang menghela nafas pelan mulai menyantap lahap daging buruannya pagi tadi, matanya mengerjap pelan menatap lamat foto kusam di hadapannya.

Begitu selesai, ia sigap merapihkan sisa-sisa makanannya sembari sesekali menatap keluar meniti sela-sela bingkai jendela. Semburat kemerah-merahan mulai tersirat menghiasi langit di atas sana tanda sang mentari mulai terkantuk hendak kembali terlelap. Lenguhan, lolongan, serta aungan terdengar nyaring saling sahut-menyahut membuat ramai seisi kota.

Juang pun mengambil langkah memutuskan pergi menuju atap bangunan tempat singgahnya. Awan-awan tipis mulai padam terkikis oleh angin malam, nampaknya malam ini bintang gemintang akan menunjukkan batang hidungnya memamerkan pesona gemilaunya. Ia merebah lelah tubuh jangkungnya di atas kasur tipis yang ia dapatkan dari gudang kampus. Diraihnya radio lama yang tak jauh dari tempat ia berbaring, Juang kembali sibuk penuh harap mengutak-atik radio lama itu.

Nihil, radio itu tetap diam membisu tak berkutik, ia menghela nafas pelan melempar asal radio lamanya. Matanya tertatap lurus menatap hampa hamparan langit yang mulai menghitam.

Baiklah, mungkin esok atau suatu hari nanti aku masih bisa berusaha menemukan seseorang di luaran sana, semoga saja‘ Juang mulai terkantuk menguap lebar, ia meregangkan tubuhnya yang terasa letih, matanya mulai mengerjap lelah siap untuk tidur. Siulan angin malam serta suara hewan-hewan liar yang saling sahut-menyahut menjadi lagu pengantar tidur alami bagi Juang sampai akhirnya ia sempurna tertidur.

Tapi, tepat disaat Juang sempurna tertidur, tak jauh dari tempatnya terbaring, desingan kasar terdengar samar dari arah radio lama yang sejak kemarin Juang utak-atik mendapat sinyal balasan.

“Halo? Sambungan distrik 170845 ganti, ada seseorang disana? Sinyal radio SOS anda berhasil kami tangkap. Halo? Halo?” Samar-samar terdengar suara seseorang dari arah radio lama itu sampai akhirnya radio itu kembali bungkam mengeluarkan percikan listrik rusak tak lagi dapat menerima sinyal.

Sedangkan Juang masih tertidur lelap tak mendengar seruan seseorang dari dalam radio lamanya.

Tamat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini