Sakaratul Maut | Republika Online

0
96

Sakaratul maut adalah kesusahan dan rasa sakit yang memuncak menjelang maut.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Syamsul Yakin


Setiap orang beriman mengharap saat meregang nyawa atau sakaratul maut dalam keadaan husnul khatimah. Allah berfirman, “Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), ”Salamun ‘alaikum (keselamatan dan kesejahteraan bagimu).” Masuklah ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS al-Nahl/16: 32). 


Yang dimaksud dalam keadaan baik dalam ayat ini, menurut pengarang Tafsir  Jalalain, adalah suci dari kekafiran.


Sakaratul maut adalah frasa yang termaktub di dalam Alquran, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (QS  Qaf/50: 19). 


Bagi pengarang Tafsir Jalalain, sakaratul maut adalah kesusahan dan rasa sakit yang memuncak menjelang maut. Dalam sejarah, rasa sakit sakaratul maut juga dirasakan oleh Nabi. Tentu rasa sakit itu lebih besar dirasakan oleh pengikut beliau. Untuk itu Nabi mengajarkan doa, “Ya Allah, mudahkanlah bagi kami di dalam menempuh sakaratul maut.” (HR  Turmudzi).


Menurut Syaikh Nawawi dalam kitab  Qathrul  Ghaits, orang yang sedang mengalami sakaratul maut dapat melihat tempatnya di surga atau di neraka. Dalam keadaan  sakaratul maut seperti ini tobat seseorang tidak lagi dapat diterima  dengan dua alasan. Pertama, karena tidak ada lagi pelaksanaan perintah yang dapat dilakukan. Kedua, karena tidak ada lagi waktu ikhtiar (kesempatan).


Berberbeda dengan tobat orang yang ruhnya belum sampai di tenggorokan. Seperti sabda Nabi yang dikutip Syaikh Nawawi, “Tobat seorang hamba yang beriman diterima selama belum sampai tenggorokan.”


Untuk itu, tak henti-hentinya kepada keluarga dan kolega atau siapa pun  untuk mempersiapkan sakaratul maut. Caranya saling memberi nasihat untuk berbaik sangka kepada Allah. Nabi berpesan, “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali berbaik sangka kepada Allah.” (HR Muslim). Sebab Allah itu tergantung sangka kita kepada-Nya. 


Agar dapat berbaik sangka kepada Allah, seorang hamba bisa secara kontinu dan konsisten memohon ampun, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, dan menjalin hubungan secara horisontal kepada sesama. Orang yang berbaik sangka kepada Allah saat sakaratul maut bisa dipastikan husnul khatimah.


Andai kata ada keluarga kita yang mengalami saat-saat sakaratul maut, hendaknya ada yang menuntunnya untuk membaca, “Laa Ilaaha Ilallah”, seperti pesan Nabi, “Talqinlah (tuntunlah) orang yang akan meninggal (untuk mengucapkan) ‘Laa Ilaaha Illallah’ .” (HR  Muslim). Sebab Nabi menegaskan, “Barangsiapa yang ucapan terakhirnya ‘Laa Ilaaha Illallah’  maka akan masuk surga.” (HR  Abu Daud).


Sementara anggota keluarga lainnya disunahkan untuk berkata  dengan perkataan yang baik seperti berdoa dan membaca Alquran. Terkait hal ini, Nabi bersabda, “Apabila kalian menghadiri orang yang sakit atau orang yang akan  meninggal,  maka berkatalah dengan perkataan yang baik, karena sesungguhnya malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” (HR  Muslim).


Sakaratul maut akan menimpa siapa saja. Cepat atau lambat, namun pasti terjadi. Kalau Aisyah saja menyaksikan kepedihan yang dirasakan Rasulullah saat sakaratul maut, apalagi kita sebagai manusia biasa. Semoga kita diringankan saat menghadapi sakaratul maut.



Sumber Berita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini