Misi Islam dan Rahmat Allah SWT untuk Kita  

0
84

Allah SWT memberikan rahmat untuk umat Islam begitu besar

Oleh: Ustadz Ali Sobirin El Muannatsy*


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Islam hadir bukan untuk sendirian, bukan untuk bersepi. Seandainya saja Islam agama sunyi, tentu dulu Rasulullah SAW tak perlu kembali ke bumi, mending asyik berdzauq dan happy ria bersama wajah-Nya.


Juga, bukan pula agama ‘tuntung-grumbyung’, bukan agama ‘ajep-ajep’ tanpa tujuan. Buktinya ya Islam alhamdulilah sampai kepada kita sampai sekarang ini. Islam adalah agama tanggung jawab, agama misi. 


Apa misi Islam? Islam diturunkan Allah SWT menjadi pelengkap dari agama-agama sebelumnya, untuk menggenapi kesempurnaan rahmat Allah SWT kepada makhluk sejagad raya tanpa sekat, tanpa batas, tanpa pandang bulu. 


Risalah Nabi Muhammad SAW adalah itu rahmatan lil ‘alamin yang tentu saja menjadi tanggung jawab penuh bagi siapa pun yang mengaku umatnya untuk mewujudkannya. 


Apa itu rahmat? Dari akar kata, rahmat terdiri dari tiga huruf. Ra, ha, dan mim. Seakar kata dengan dua teks rahman dan rahim yang menjadi salah satu dari asma Allah SWT. Mengacu kedua teks tersebut, maka rahmat berpadan makna cinta, kasih, sayang. 


Mengapa rahmat? Ya karena begitulah Allah SWT, Mahapengasih, Mahapenyayang. Memfasilitasi kita berupa alam raya berikut jibunan sunnahnya, termasuk yang melekat di diri kita. 


Akal dan hati berikut rerumbaian syaraf yang tersusun dari triliunan sel. Tidak hanya itu, Allah SWT juga mengirimkan kita risalah kenabian sebagai pemandu wujudnya cinta, kasih, dan sayang di jagad raya.


Bagaimana rahmat? Teks “rahman” dan “rahim” adalah pintu pertama bagi asma Allah SWT. Ini menegaskan bahwa Sang Mahacinta tiada menghendaki lain kecuali mewujudnya cinta itu sendiri. 


Inilah misi suci, misi agung, misi dasar kita selaku umat Islam. Ukiran pertama “bismillahirrahmanirrahim” di tiap awal hampir keseluruhan surat di Alquran adalah untuk menegaskan misi itu. 


Anjuran kepada kita untuk mematri “bismillahirrahmanirrahim” dalam setiap aktivitas adalah adalah untuk mengingatkan misi itu: merealisasikan cinta atas nama Sang Mahacinta.


Bagaimana mewujudkan cinta? 


Rasulullah SAW memberikan bantalan strategi mewujudkannya, yaitu, pertama dengan cara berakhlak mulia, dan kedua ciri akhlak mulia adalah menjadi bermanfaat. 


Secara sederhana, cara berakhlak mulia adalah dengan laku-hidup mematuhi rambu-rambu dan tidak merugikan diri sendiri serta orang lain.  


Menelisik kemanfatan, menjadi bermanfaat, secara ringkas adalah membahagiakan atau memudahkan hidup orang lain, melayani jagat raya, baik dengan produk nilai, produk jasa atau produk barang.


Baca juga: Pengakuan Mengharukan di Balik Islamnya Sang Diva Tere di Usia Dewasa


Di sinilah kita perlu menelisik bersama, selaku umat Islam terbesar di muka bumi, dengan misi agung rahmatan lil ‘alamin dan memiliki tanggungjawab mewujudkannya. 


Apa produk yang sudah kita suguhkan untuk melayani semesta raya, bagaimana jasa yang sudah kita berikan untuk kebahagiaan penghuni jagad raya, sudah seberapa banyak kita memberikan kemudahan bagi makhluk hidup? 


Seberapa besar sumbangsih karya kita untuk kebahagiaan dan kemudahan dunia, seberapa luas rahmat atau bukti cinta kita menjangkau garis kutub selatan dan utara?   


 


*Pimpinan Pondok Pesantren Nihadlul Qulub Kabupaten Pemalang 



Sumber Berita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini