Mengapa Umat Islam Betah Menetap di Amerika Serikat?

0
88

Amerika Serikat memberikan jaminan dan kebebasan untuk umat Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Di antara daya tarik Amerika Serikat ialah citranya sebagai negara yang amat menjunjung tinggi hak asasi manusia, menegakkan supremasi hukum bagi siapa saja yang melawan hukum tanpa membedakan warna kulit, agama, dan suku, harus ditegakkan. 


Bagi para pendamba kemerdekaan sejati, terutama yang berstatus sebagai budak, tentu negeri ini laksana sebuah surga kecil. Dari tahun ke tahun sikap Pemerintah Amerika Serikat semakin respek terhadap umat dan agama Islam. 


Komunitas nonbudak tertarik memilih tinggal di Amerika Serikat karena meng anggap negeri ini tidak menghalangi mereka untuk menjalankan agama Islam yang dianutnya. 


Bahkan, sebagian di antara mereka mengatakan, negeri Amerika Serikat sesungguhnya lebih Islami dari sejumah besar negeri Muslim.


Hal itu jika yang dijadikan ukuran adalah indeks kesejahteraan kemanusiaan, seperti terpenuhinya rasa aman, perlakuan secara adil dari negara, mutu pendidikan, dan komunitas perguruan tinggi semakin menjanjikan, dan indeks kesehatan rata-rata warga masyarakat, termasuk usia keberadaan generasi milenial yang dominan di sejumlah negara Muslim. 


Kelompok yang terakhir ini patut disebut Turki sebagai salah satu etnik terbesar penyumbang populasi Muslim di Amerika Serikat.


Diharapkan, pada masa depan juga akan banyak warga Indonesia yang diberi kemudahan untuk tinggal atau bekerja di negara yang memiliki daratan paling luas di dunia itu. 


Gerakan keagamaan Turki dan Indonesia secara ideologis tidak mendapatkan kecurigaan berlebihan dari Pemerintah Amerika Serikat, sekalipun melibatkan massa yang lebih besar.


Mungkin ini disebabkan kegiatan mereka selalu menampilkan wajah Islam yang damai dan toleran. 


Komunitas Turki diberikan kepercayaan oleh Pemerintah Amerika Serikat untuk mengelola sejumlah public school, bahkan mendapatkan bantuan dari Pemerintah Amerika Serikat. 


Sementara, komunitas Indonesia juga tidak pernah mendapat kan rintangan berarti di dalam membu ka madrasah Sabtu-Ahad dengan menyewa ruangan pubilic school, seperti di Washington DC dan sekitarnya.  


Di New York, komunitas Muslim Indonesia memiliki Masjid Al-Hikmah, di Washington DC memiliki masjid sekaligus kantor IMAAM yang lumayan besar untuk memfasilitasi berbagai kebutuhan komunitas Indonesia di wilayah tersebut. 


Baca juga: Ritual Sholat Memukau Mualaf Iin Anita dan Penantian 7 Tahun Hidayah Akhirnya Terjawab 


Rumi Forum di Washington DC merupakan wadah bagi siapa saja yang ingin memahami kedalaman makna batin agama Islam, tidak terbatas hanya di kalangan umat Islam, tetapi juga pada agama-agama lain.


Festival dan acaraacara keagamaan di Rumi Forum dan Turkis Center lainnya mendapatkan kesan positif di tengah masyarakat.  


Hal yang sama juga dikenal di dalam berbagai acara pengajian Hisyam Kabbani yang semakin hari semakin besar jumlah pengikutnya.


Cabang-cabangnya sudah bertebaran di seluruh negara bagian Amerika Serikat, bahkan sudah sampai ke Eropa, Kanada, Amerika Latin, Afrika, dan termasuk Indonesia. 


Di Philadephia, Syekh Fethullah Gullen, yang dekade terakhir ini mempunyai garis politik berbeda dengan Presiden Turki, Erdogan, juga punya center dan pengikut yang sangat besar. Mereka tidak dicurigai sama sekali karena yang mereka tampilkan adalah Islam rahmatan lil ‘alamin. 


Ini mengingatkan penulis ketika dalam tahun 2004-2005 pernah bertugas sebagai “penjaga” IMAAM Center, pusat kegiatan umat Islam Indonesia di Beltway (DC, Maryland, dan Virginia).


Selama bertugas di center ini, penulis bersama keluarga sama sekali tidak pernah mendapatkan gangguan dari manapun. 


Ini mungkin karena yang kita kembangkan adalah Islam yang penuh kedamaian. Gerakan yang sesungguhnya sama juga dilakukan komunitas Islam Timur Tengah dan Asia Selatan di Amerika Serikat.


Hanya saja, mereka sering dikesankan sedikit agak distinctive karena mungkin dari segi cara ber pakaian dan bergaulnya memiliki kekhususan sehingga seolah ada jarak dengan kelompok lain.


Sedangkan, komunitas Muslim Indonesia di Amerika Serikat lebih mudah menyesuaikan diri dengan warga setempat.     


 


* Naskah Catatatan Perjalanan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof KH Nasaruddin Umar di Amerika Serikat, tayang di Harian Republika 



Sumber Berita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini