Mendudukkan Piala Dunia Qatar dalam perspektif selayaknya

0
74

jika tujuannya menyatukan dunia, seharusnya pendekatan yang ditekankan adalah pendekatan yang lebih multikultural dan lebih toleran terhadap nilai-nilai lokal

Jakarta (ANTARA) – Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani awalnya menanggapi positif kritik internasional terhadap catatan hak asasi manusia Qatar mengenai perlakuan terhadap pekerja migran, perempuan dan kaum LGBTQ dalam kaitannya dengan Piala Dunia 2022 yang akan digelar dari 20 November sampai 18 Desember.

Emir Qatar itu bahkan menganggap semua kritik itu konstruktif dalam membantu Qatar mengembangkan aspek-aspek yang dianggap harus dikembangkan atau dimajukan lagi.

Namun, lama kelamaan Sheikh Tamim gerah. Dia merasa kritik tersebut sudah melebar ke mana-mana sehingga mengabaikan esensi utama menghadirkan turnamen sepak bola yang bisa membahagiakan masyarakat global.

Dia akhirnya meradang bahwa “sejak kami mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah Piala Dunia, Qatar menjadi sasaran kritik yang tak pernah dihadapi negara tuan rumah mana pun sebelumnya yang pernah menggelar Piala Dunia.”

Pemimpin Qatar ini menjadi berprasangka bahwa “ada udang di balik batu” dari semua kritik terhadap negaranya yang justru dikenal sebagai oasis keterbukaan di dunia Arab, khususnya Arab Teluk.

Di negeri inilah pers paling independen di Timur Tengah berada, dalam bentuk stasiun televisi Al-Jazerra. Negeri ini juga aktif membangun persepakbolaan Eropa dengan berinvestasi pada klub-klub besar di benua itu.

Sudah puluhan miliar dolar AS dibelanjakan oleh Qatar untuk mempersiapkan Piala Dunia 2022 sejak mereka dipilih menjadi tuan rumah turnamen ini pada 2 Desember 2010.

Tetapi selama mempersiapkan Piala Dunia 2022, Qatar tak henti menjadi sasaran kritik atas perlakuannya terhadap pekerja asing, LGBTQ, kaum perempuan, bahkan lingkungan.

Amnesti Internasional dan Human Rights Watch menyoroti perlakuan tidak adil Qatar kepada pekerja asing yang turut membangun stadion-stadion Piala Dunia, dalam laporan berjudul “Qatar World Cup of Shame” pada 2016.

Lima tahun kemudian koran terkemuka Inggris, The Guardian, menggelar peliputan investigatif yang menyimpulkan paling sedikit 6.751 pekerja asing meninggal dunia di Qatar dari 2010 sampai 2020.

Berangkat dari laporan ini, sejumlah kota di Prancis termasuk Paris menyatakan tak akan menggelar ‘nonton bareng‘ dalam bentuk fan zone yang menjadi tempat ribuan orang menonton bersama laga-laga Piala Dunia dari layar-layar raksasa.

Langkah itu diikuti oleh Berlin di Jerman dengan menyatakan Gerbang Brandenburg yang rutin menjadi fan zone, kali ini tak akan menggelar nonton bareng Piala Dunia.

Baca juga: Kane bicarakan masalah HAM di Qatar dengan Eriksen dan Lloris

Baca juga: Timnas Jerman kembali protes Qatar soal pelanggaran HAM

Baca juga: FIFA katakan HAM harus dihormati

Selanjutnya: Dukungan dari Presiden FIFA

 

COPYRIGHT © ANTARA 2022

Source link

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini