IPB siap total teliti cacar monyet jika telah resmi ditunjuk pemerintah

0
129

Kota Bogor (ANTARA) – Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arief Satria menyatakan pihaknya siap memberikan totalitas jika telah resmi ditunjuk pemerintah terlibat dalam penelitian cacar monyet dan kian menyebar di sejumlah wilayah.

 

“Kita terus koordinasi. Begitu ada kabar penunjukan resmi sudah ada, kita akan total,” ujarnya kepada ANTARA di Kota Bogor, Minggu.

 

Arief menyebutkan sejauh ini ada dua laboratorium utama yang menjadi perhatian pemerintah dalam penelitian cacar monyet untuk menganalisis penyakit, pencegahan dan penanganan hingga vaksinasi jika dibutuhkan.

 
Baca juga: IPB siap dilibatkan pemerintah dalam penyelidikan cacar monyet
 

Dua laboratorium itu ialah Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sri Oemijati BKPK Kemenkes dan di Pusat Studi Satwa Primata IPB, Bogor.

 

Oleh karena itu, kata Arief, baik sumber daya manusia (SDM), laboratorium maupun pusat konservasi primata IPB di Pulau Tinjil, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten telah dipersiapkan.

 

Cacar monyet merupakan zoonosis yang disebabkan oleh infeksi virus dari genus Orthopoxviridae.

 

“Kita selalu

Baca juga: Pemkab Karawang imbau masyarakat waspadai munculnya virus cacar monyet
 

Sejak beberapa pekan lalu, IPB telah melakukan rapat-rapat informal bersama pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan untuk melakukan penelitian solusi pencegahan dan penanganan penyakit cacar monyet yang sudah menjadi wabah di dunia.

 

Sementara itu, Badan Kesehatan Masyarakat Kanada (PHAC) hingga Jumat (12/8) mengonfirmasi 1.059 kasus cacar monyet (monkeypox) di negara itu.

 

PHAC mengatakan bahwa dari seluruh kasus terkonfirmasi, 511 kasus di antaranya berasal dari Ontario, 426 dari Quebec, 98 dari British Columbia, 19 dari Alberta, tiga dari Saskatchewan, dan dua dari Yukon.

 
Baca juga: WHO minta negara di kawasan Asia Tenggara perkuat sistem pengawasan cacar monyet
 

Menanggapi perkembangan penyebab cacar monyet, Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan pun mempersiapkan 10 Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) untuk mendukung penelitian penyakit tersebut di Medan, Palembang, Kalimantan, Banjarmasin, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Ambon, Manado, dan Makassar.

 

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkeskit Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu pemanfaatan fasilitas BTKL sebagai laboratorium penelitian virus Monkeypox menambah jumlah jejaring laboratorium yang sebelumnya hanya tersedia dua unit di Kemenkes dan laboratorium primata di Bogor.



Sumber Berita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini