Hasil Rakornas ke-V Pesantren Muhammadiyah, Ada Usul Bentuk Majelis Pesantren

0
81

Rakornas ke-V Pesantren mengusung tema Pengembangan Budaya Pesantren Muhammadiyah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ke-V Pesantren Muhammadiyah digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 31 Agustus-1 September 2022. Rakornas tersebut mengusung tema “Pengembangan Budaya Pesantren Muhammadiyah Menghadapi Tantangan Masa Depan.”


Sekretaris Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah KH Muhbib Abdul Wahab menyampaikan beberapa hal yang dibahas dalam Rakornas ke-V Pesantren Muhammadiyah. Di antaranya, membahas panduan pengembangan budaya pesantren Muhammadiyah dan terkait pesantren Mu’adalah atau penyetaraan.


“Juga membahas pengabdian calon lulusan pesantren Muhammadiyah, (membahas) kurikulum pendidikan ustadz pesantren Muhammadiyah, dan (membahas) rekomendasi untuk Muktamar Muhammadiyah ke-38 di Surakarta,” kata Kiai Muhbib kepada Republika, Jumat (2/9/2022)


Kiai Muhbib mengatakan, banyak yang dihasil dari Rakornas ke-V pesantren Muhammadiyah. Di antaranya, yang pertama peserta Rakornas menyetujui dan mengusulkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk membentuk Majelis Pesantren sebagai transformasi dari lembaga pengembangan pesantren.


Ia menyampaikan, hasil rakornas yang kedua adalah revisi, penyempurnaan, penerbitan, dan pendistribusian panduan pengembangan budaya pesantren Muhammadiyah kepada semua pesantren Muhammadiyah. Supaya bisa dipedomani dan diwujudkan dalam kehidupan nyata di pesantren Muhammadiyah.


“Ketiga, penyiapan ustadz atau ustadzah dan ulama pesantren Muhammadiyah dilakukan dengan peningkatan kualitas maupun kuantitasnya. Upaya ini dimulai dengan peluncuran PUPM atau Pendidikan Ustadz Pesantren Muhammadiyah di Unismuh Makassar pada pertengahan Agustus lalu,” ujar Kiai Muhbib.


Kiai Muhbib menambahkan, hasil rakornas yang keempat adalah pengembangan dan peningkatan pesantren Muhammadiyah yang unggul dan berkemajuan dengan memiliki corporate culture. Meminjam istilah Menko PMK Prof Muhadjir Effendy atau budaya khas pesantren Muhammadiyah yang ditekuni dengan menerapkan manajemen modern, terbuka, akuntabel, profesional, dan amanah.


Ia mengatakan, hasil rakornas kelima, merekomendasikan perumusan dan pengembangan kurikulum, silabus, dan bahan ajar PUPM berikut pembukaan PUPM di luar Unismuh Makassar melalui sinergi dengan universitas-universitas Muhammadiyah di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.


“Keenam, (merekomendasikan) perluasan jejaring dan kerja sama dengan perguruan tinggi di Timur Tengah, seperti universitas Al-Azhar, Jami’ah UMM al-Qura, Jami’ah UMM Dorman Sudan, dan lain sebagainya terutama untuk kaderisasi ulama dan ustadz Muhammadiyah,” jelas Kiai Muhbib.


 



Sumber Berita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini