Faktor Penyebab Ekstrimisme Beragama Menurut Mantan Rektor Al Azhar Mesir

0
69

Ekstremisme bisa menjangkiti siapapun tanpa pandang bulu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Di tengah gelombang keekstreman yang datang silih berganti, Universitas Al Azhar Mesir pernah menggelar muktamar internasional pada 2014 lalu. 


Muktamar ini mengundang para ulama, pemikir, dan pemuka mazhab keagamaan untuk berdiskusi dan bermusyawarah terkait masalah radikalisme dan terorisme.


Muktamar tersebut telah melahirkan makalah-makalah ilimiah yang berisi pelusuran berbagai pemahaman keliru dan penjelasan mengenai sejumlah pernyataan ambigu yang oleh para pendukung pemikiran menyeleweng dijadikan sebagai kendaraan untuk membenarkan segala sesuatu yang mereka lakukan berupa tindakan-tindakan kriminal yang keji.


Buku berjudul “Islam, Negara, dan Ekstremisme” karya Imam Akbar Ahmad al-Tayyeb dkk ini merupakan edisi bahasa Indonesia dari makalah-makalah yang disampaikan dalam muktamar internasional tersebut. 


Para tokoh ulama dalam buku buku ini berupaya meluruskan kesalahpahaman mengenai beberapa konsep yang kerap dijadikan sandaran oleh kaum ekstremis, seperti khilafah, hakimiah, takfir, jahiliah, dan jihad.


Meskipun muktamar tersebut digelar pada tujuh tahun lalu, tetapi isu-isu yang dibicarakan masih sangat relevan untuk disebarluaskan. Apalagi, Indonesia hingga saat ini juga masih gencar memerangi masalah terorisme dan radikalisme berbasis agama.


Dalam buku ini mantan Rektor Universitas al-Azhar Mesir, Abdul Hayyi ‘Izb Abdul ‘Al menjelaskan tentang sebab-sebab terjadinya sikap ekstrem dan berlebih-lebihan.


Sebab pertama adalah adanya pemahaman yang salah terhadap ayat-ayat Alquran, hadits nabi dan kitab-kitab klasik.


Kedua, sikap ekstrem muncul lantaran menafsirkan teks-teks keagamaan berdasarkan hawa nafsu (selera pribadi), dan jauh dari pemahaman yang benar terhadap agama yang bertolak dari prinsip-prinsip menjaga urusan-urusan agama dan dunia secara bersamaan.


Ketiga, memasukkan agama secara paksa ke dalam aliran-aliran politik yang beraneka ragam, dan sembunyi di balik jargon-jargon keagamaan untuk mempengaruhi manusia dan menarik simpati mereka.


Sebab keempat, kurangnya pendekatan kepada kawula muda, para dai kehilangan bahasa untuk mempengaruhi. Kelima, membiarkan ruang luas kepada para dai tendensius di stasiun-stasiun televisi satelit, terutama pada beberapa waktu yang telah lalu.


Sekurang-kurangnya ada 12 penyebab terjadinya sikap ektrem yang diungkapkan Abdul Hayyi ‘Izb Abdul ‘Al dalam buku ini. Hal ini dapat membuka mata para pembaca untuk mencegah pemikiran-pemikiran dari kelompok ekstremis di Indonesia.    



Sumber Berita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini